Rabu, 22 Mei 2013

NASIHAT ANTIKEKERASAN BAGI PEGIAT AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR


Kedua penulis dalam mukadimah buku ini mengungkapkan satu pertanyaan penting, apa urgensi membahas pegiat amar makruf nahi mungkar? Pertanyaan itu dijawab sendiri dengan menyatakan bahwa ada banyak alasan untuk membahas orang yang gemar melakukan amar makruf nahi mungkar. Di antara alasan paling kuat adalah begitu jelasnya kesalahan orang yang gemar melakukan nahi mungkar. Selain itu, agar kelak kegemaran itu dapat diluruskan dan dikoreksi; agar tidak ada lagi perbuatan mengagumi amal sendiri; agar kelak bisa rendah hati dan tunduk di hadapan Allah Swt.

Pembahasan ini juga diharapkan memiliki beberapa efek yang baik, di antaranya (1) memperkaya ilmu pengetahuan di bidang dialog dengan diri sendiri dan orang lain; (2) menguatkan semangat mengembangkan pemikiran; (3) menghindarkan diri dari terlalu kagum pada pemikiran masa lalu; (4) memperkuat pemikiran yang telah ada dengan mencari dalil dari syariat; serta (5) tidak lagi menggunakan nilai materi duniawi untuk beramal. Semua ini dapat dicapai dengan mendengarkan baik-baik para pemberi nasihat. Hal itu karena kebaikan merupakan milik seseorang yang hilang. Siapa pun yang menemukannya ia paling berhak untuk menggunakannya. (hal. 5).

Setelah mukadimah, kedua penulis menunjukkan beberapa kendala dalam menulis buku ini, di antaranya sebagai berikut:
  1. Berbaik sangka dan kagum dengan amal kebaikan diri sendiri. Hal ini wajar terjadi mengingat secara fitrah manusia memang umumnya mudah kagum dengan apa yang dikerjakan. Dengan begitu, ia pun lupa untuk introspeksi melihat kemungkinan adanya kekurangan dan kelemahan dalam diri sendiri. Allah Swt. berfirman, “Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan musibah dua kali lipat (kepada musuh-musuhmu pada Perang Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri....’” (QS. Ali Imran [3]: 165).
  2. Mengultuskan individu tertentu dari masa lalu. Rasulullah Saw melarang umatnya untuk mengultuskan diri beliau. Beliau bersabda, “Janganlah kalian terlalu memujaku sebagaimana kaum Nasrani terlalu memuja Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka sebutlan diriku ‘hamba Allah dan rasul-Nya.” Sungguh, sangat besar fitnah bagi orang yang mengultuskan dan orang yang dikultuskan secara tidak tepat seperti itu.
  3. Kebodohan dan hawa nafsu. Permasalahan terbesar bagi orang bodoh biasanya adalah dia tidak merasa bahwa dirinya bodoh, terutama di hadapan orang yang sudah telanjur menganggapnya tidak bodoh. Karena itu, ia semakin tidak mau mengintrospeksi diri untuk melihat kelemahan dan kekurangan yang ada pada dirinya.
  4. Terlalu mengedepankan pemikiran orang asing atau sebaliknya, terlalu antipati terhadap pemikiran asing. Terlalu mengedepankan pemikiran orang lain merupakan penyakit umat Islam masa kini sebagai akibat dari terlalu lamanya kaum muslimin berada di bawah bayang-bayang Barat. Adapun terlalu antipati atas pemikiran kaum lain disebabkan kecurigaan berlebihan setelah umat Islam merasa dijajah selama berabad-abad. (hal. 8)
  5. Kebanyakan orang tidak bisa membedakan antara nasihat dan ungkapan biasa yang tidak ada artinya. Celakanya, mereka tidak mau mengamati lebih saksama kalimat yang berisi nasihat atau ungkapan biasa itu. Mereka tidak mau melihat referensi lain demi mengerti suatu kalimat apakah berisi nasihat ataukah ungkapan biasa.
  6. Pemahaman yang keliru tentang koreksi terhadap pemikiran seseorang; dianggap sebagai “habis”nya orang itu. Sebagian orang beranggapan bahwa setiap pemikir besar semua perkataannya pasti benar, tidak ada yang salah sedikit pun. Akibatnya, pemikir besar tersebut dianggap benar 100% dalam seluruh perkataan dan tindakannya dan menafikan kemungkinan adanya kesalahan atau kealpaan, sedikit atau banyak, pada dirinya. Di sisi lain, jika ada seorang pemikir besar dikritik, lalu kritikan tersebut memang dirasa masuk akal, maka kemudian dianggap bahwa seluruh pemikirannya adalah salah dan tidak ada benarnya. (hal. 9)
  7. Gesekan di antara kelompok-kelompok pejuang Islam. Kedua penulis menjelaskan bahwa seharusnya adanya kelompok-kelompok dalam Islam adalah dalam konteks hubungan saling mengisi dan saling melengkapi. Namun, fakta justru memperlihatkan bahwa di antara umat Islam sendiri justru saling menyudutkan untuk kepentingan kelompok masing-masing. Padahal, Rasulullah Saw pernah bersabda, “Janganlah engkau senang dengan kesusahan orang lain; barangkali di lain kesempatan Allah membuat orang lain itu senang dan justru mengujimu dengan kesusahan.” (hal. 11)
  8. Anggapan bahwa mengikuti orang lain itu pasti salah. Kesalahan besar yang saat ini marak adalah menganggap setiap ittiba’ (mengikuti orang lain) merupakan aib yang harus dihindari. Padahal, ittiba’ pada orang yang berilmu justru harus dilakukan oleh orang yang ilmunya belum mencukupi. Satu kesadaran penting yang harus selalu dijaga adalah bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa karena sifat terbebas dari salah dan lupa sudah dicabut bersama dengan berakhirnya era kerasulan. Karena itu, setiap orang harus tetap beramal, soal benar atau salah, itu soal belakangan. Beramal bisa saja salah, tetapi itu lebih baik daripada tidak beramal sama sekali. (hal. 11)
Anggapan keliru mengenai “tetap dalam kebenaran”. “Tetap dalam kebenaran” memang merupakan suatu kewajiban bagi manusia. Namun, bukan berarti hal itu mendorong seseorang untuk tidak melakukan hal-hal baru, seperti ijtihad. “Tetap dalam kebenaran” tidak bisa dipertentangkan dengan kemungkinan kesalahan yang terjadi akibat suatu ijtihad. Hal itu karena kebenaran hakiki merupakan milik mutlak Allah Swt. Manusia tidak bisa secara mutlak memastikan sesuatu hal sebagai kebenaran atau kesalahan. Jika seseorang berani berijtihad menggunakan ilmunya maka ia tidak bisa disebut telah meninggalkan kebenaran. Sudah banyak sekali contoh yang diperlihatkan para sahabat yang melakukan ijtihad, bahkan meski ijtihad itu terlihat seperti bertentangan dengan apa yang sudah dilakukan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw sendiri dalam Perang Badar pernah (berijtihad) mengubah tempat turunnya setelah mendapatkan informasi dari Habab bin al-Mundzir. Beliau pindah ke tempat yang menurut ijtihad beliau lebih baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar